konsep dasar konseling lintas budaya

 

PENDEKATAN ISLAM AKOMODATIF-REFORMATIF TERHADAP KERAGAMAN BUDAYA

 

Makalah Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Dalam Mengikuti

Mata Kuliah Dasar-dasar Pemikiran Islam yang Diampu

Bp. Prof. DR. H. Siswanto Masruri MA

 

 

 

 

Oleh

Kusno Effendi

 

 

 

 

PROGRAM DOKTOR

KONSORSIUM PERGURUAN TINGGI MUHAMMADIYAH SE

INDONESIA  DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

YOGYAKARTA

JUNI 2009

 

  1. I.                    KONSEP KEBUDAYAAN DALAM ISLAM

A. Pandangan Islam Tentang Kebudayaan

Asy’arie, Musa  (1991. 3), menjelaskan bahwa:

 Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddayah” yang merupakan bentuk jamak dari buddi (budi atau akal), dan diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal. 1

 Budaya adalah serangkaian  sikap, nilai, kepercayaan dan tingkahlaku dalam suatu kelompok sosial  yang membedakan  dengan kelompok yang lain dan  diwariskan dari generasi satu ke  generasi berikutnya. Dalam konsep tersebut, budaya dibedakan menjadi dua ialah 1) sebagai pandangan hidup yang berupa  nilai dan kepercayaan, dan 2) tingkahlaku termasuk sikap. Sebagai pandangan hidup maka nilai-nilai budaya menjadi pedoman atau norma perilaku masarakat.  Nilai budaya menjadi sumber aturan yang harus ditaati  masyarakat, bahkan nilai budaya  terpatri dalam jiwa dan pikiran setiap anggota masyarakat sebagai energi yang menggerakkan tingkahlaku manusia. Budaya sebagai bentuk yang berupa tingkahlaku dengan segala hasil/produknya, artinya tingkahlaku manusia dalam hidup dan kesehariannya merupakan ujud dari budaya mereka. Demikian juga produk yang dihasilkan (karya seni, ilmu dan teknologi dsb) merupakan budaya manusia.

Secara normative – etis, konsep agama yang terkandung dalam istilah “din” mempunyai makna yang berbeda namun saling

 

___________________________

  1. Baidhawy Zakiyuddin, dan Mutohharun Jinan,. 2002. Agama  dan   Pluralitas   Budaya Lokal . Surakarta. Penerbit Pusat  Studi Budaya dan Perubahan Sosial UMS. hal. 1-2

berhubungan sehingga membuat satu kesatuan keseluruhan makna ialah Islam. Ada lima (5) makna pokok dari din tersebut ialah  hutang, ketundukan, ketaatan, ketakwaan, kekuasaan dan hukum, kecenderungan alam, dan pengaturan dan kebiasaan. 2

Kalimat “din” dalam pengertian pengaturan dan kebiasaan tersebut, merupakan awal terbentuknya kebudayaan.  Itu terjadi  dari perilaku yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi aturan kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan dalam satu lingkungan dan memberikan ciri pada lingkungan itu sehingga membedakan dengan daerah lain, itulah budaya. Suatu wilayah dengan penduduk yang berbudaya dan beradap yang disebut madani. Dengan demikian makna kata “din” diperoleh pemahaman hubungan tentang agama dan budaya. Itu artinya adanya interdependensi antara agama sebagai wahyu dengan kehidupan budaya manusia.

Menurut konsep Islam kebudayaan merupakan derivasi dari konsep agama, karena itu maka kebudayaan merupakan subordnat dari _konsep agama. Agama atau pemahaman ketuhanan harus dipandang sebagai kerangka petunjuk dari kebudayaan. Setiap Muslim khususnya,  dituntut mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk eksplorasi dan memanfaatkan unsur-unsur kebudayaan  serta spiritual agar dapat memainkan peranan penting dalam menggairahkan dan memobilisasi seluruh tahap pembangunan budaya bangsa itu sendiri.

Asy,arie, Musa. berpendapat bahwa: ” kebudayaan sebagai proses adalah meletakkan kebudayaan sebagai eksistensi hidup manusia

 

 __________________________

2. Baidhowy, Zakiyuddin dan Mutohharun Jinan. Op. Cit.  hal. xx

kebudayaan adalah suatu kegiatan total diri manusia yang meliputi kegiatan akal yaitu pemikiran dan zikir serta kesatuannya dalam perbuatan 3

Pada konsep Asy,arie tersebut,  dalam  Quran dapat difahami bagaimana manusia menggunakan akalnya untuk merealisasikan kebudayaan dalam kehidupannya sebagai suatu produk dari perbuatan. Hal ini sejalan dengan Alquran itu sendiri sebagai Kitab Suci yang lebih mementingkan amal dari pada gagasan. Amal atau karya adalah kondisi dasar manusia yang tidak hanya membanting tulang atau memeras keringat dalam kerja, tetapi bekerja dengan akalnya.

Berdasarkan pembahasan tersebut maka dapat diambil bahwa pertautan antara Islam dan budaya sangatlah kuat, sehingga Islam dapat dipandang sebagai penghasil budaya. Maknanya bahwa manusia yang berbudaya adalah manusia yang mampu menggunakan akalnya secara efektif sesuai dengan kaidan Alquran yang menghasilkan amal dari perbuatannya.

 

  1. B.     Islam Dan Keragaman Budaya

Keragaman kebudayaan Islam secara garis besarnya, dapat dipetakan menjadi lima (5) kawasan ialah : Arab, Iran, Turki, Melayu dan Afrika Hitam. Kelima kawasan  tersebut dibahas selanjutnya sebagaimana disajikan berikut ini.

_____________

3.Asy,arie, Musa. 1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Alquran: Yogyakarta. Penerbit LESFI

 

 

  1. Kebudayaan kawasan Arab

Di Kawasan Arab, kebudayaan Islam adalah kawasan kebudayaan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa kebudayaannya. Kawasan ini sekarang disebutnya sebagai dunia Arab yang terbentang dari Irak di timur sampai Maroko di barat, dari Yaman di  bagian selatan sampai Syria di utara.  Kawasan ini mencakup negeri-negeri tertentu yang seluruh penduduknya tidak dapat disebut etnis Arab, yaitu Sudan, Somalia, dan Mauritania. Kebudayaan Arab, dibagi menjadi etiga kawasan ialah barat, timur dan selatan.

  1. a.      Kawasan barat.

Beberapa ciri kawasan Arab di wilayah bagian barat  ini, merupakan wilayah yang mempunyai kebudayaan Arab tersendiri, antara lain  terlihat pada :

1). Dialek Arab, gaya kaligrafi dan arsitek perencanaan kota.

2). Cara berpakaian laki-laki lebih mencerminkan model di zaman awal Madinah. Hal ini dimungkinkan karena adanya kesamaan sejarah dengan dominasi kekuasaan yang panjang oleh dinasti-dinasti yang berasal dari keturunan Nabi Muhammad.

b. Kawasan timur

Beberapa ciri yang Nampak pada daerah timur antara lain sebagai berikut:

1). Kebudayaan Arab lebih beragam. Di Hejaz dan Najd yang menjadi tempat lahirnya Islam, sampai sekarang membentuk suatu unit tersendiri dengan pola kebudayaan nomadiknya.

2). Mewarisi kebudayaan kuno pra-Islam dan dominasi Turki Usmani yang telah membentuk pola kebudayaan Islam yang khas.

3). Irak pewaris kebudayaan besar Mesopotania kuna dan pusat pembangunan dan pengembangan kebudayaan klasik.

4) Memiliki demografi yang unik ialah 50% Sunni, dan 50% Syiah serta minoritas non Arab (Kurdi, Persia dan Assyria).

c. Kawasan selatan

Daerah ini merupakan semenanjung Arab yang memperlihatkan keragaman bentuk lain.

1). Yaman, sebagai satu-satunya wilayah kawasan ini yang proses Islamisasinya berlangsung damai.

2) Kebudayaannnya murni Arab yang dapat dibedakan dengan mudah melalui arsitektur dan perencanaan kotanya, aspek-aspek visual keseniannya,  ungkapan intelektual serta sastra-sastra rakyatnya.

  1. 2.      Kebudayaan kawasan Iran

Kawasan ini kebudayaan Negara khususnya budaya Islam dicirikan antara lain sebagai berikut.

a. Ciri bahasa yang menonjol adalah  bahasa Indo-Iran.

b. Ciri etnik dan dominasi budaya Islam Persia dengan bahasa Persia.

c. Keragaman budaya disebabkan oleh faham keagamaan Sunni dan Syiah.

d. Keragaman bahasa dan geografi, seperti yang terjadi di anak benua India misalnya unsure-unsur kebudayaan Persia yang masuh ke India telah mengubah kebudayaan Hindu menjadi Islam misalnya. Islam Sindhi, Punjabi, Khasmiri, Bengali.

  1. 3.      Kebudayaan kawasan Turki

Kawasan ini secara cultural dekat dengan kebudayaan Islam Iran/Persia. Ciri-ciri dari kebudayaan kawasan ini antara lain :

a. Penggunaan bahasa Turki dan masyarakatnya yang beretnis Turki.

b. Kebudayaan yang paling terkemuka adalah dinasti Turki Usmani yang merupakan penggabungan  atau pengawinan budaya Islam dalam bentuk Turki dengan warisan Byzantium masa lampau.

c.Bentuk arsitektur dan  perencanan kota,  mempunyai keunikan tersendiri.

d. Kaukasus ialah komposisi etnik dan kesenian  yang memadukan unsure Turki Persia Armenia dan Georgia.

4. Kebudayaan Islam kawasan Melayu

Kawasan ini membentang dari Thailand Selatan  ke Malaysia  dan Indonesia sampai ke Filipina yang merupakan kebudayaan Islam demikian  luas dan lebih homogen dengan keragaman budayanya. Kawasan ini mempunyai kesamaan sejarah dalam proses  Islamisasinya. Unsur-unsur kebudayaan yang masuk pertama kali, merupakan unsure Islam India/Gujarat, kemudian unsure Islam Arab/Hadramaut, dan kemudian arus sufisme yang kuat dari kawasan Persia.Beberapa keunikan budaya di daerah ini antara lain :

a. Pengautan madzab hukum Syafi’I, hanya terbatas pada hukum-hukum keluarga.

b. Seni musik, tarian dan teater tetap hidup dalam bentuk Hindu, Budha, dan budaya pribumi kuno serta budaya Islam. Salah satu contoh menonjol adalah arsitektur Masjid.

c. Kawasan ini mempunyai banyak bahasa dan bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi dan kesusasteraan telah menjadi bahasa kebudayaan di kawasan ini bahkan menjadi bahasa Nasional untuk Malaysia dan Indonesia.

5. Kawasan Afrika Hitam

Kebudayaan Islam di daerah ini terbagi menjadi Afrika Timur, Afrika Barat dan Afrika Selatan.

a. Afrika Timur

1) Salah satu kebudayaan Afrika Timur adalah dengan lahirnya bahasa Swahiliyang merupakan sintesis dari bahasa bantu, Arab dan Persia. Bahkan sekarang bahasa ini menjadi bahasa Islam terpenting di Afrika Timur yang memainkan peran utama dalam kehidupan cultural di wilayah itu.

2) Bahasa Arab menjadi bahasa resmi dan merupakan sebuah sintesis yang unik di Afrika.

b. Afrika Barat

Pada kawasan ini dakam komunitas Muslim, telah tumbuh pola kebudayaan Islam yang tercipta dari unit-unit kultur local berdasarkan suku-suku yang memeluk Islam.

c.Afrika Selatan

Menurut Nasr, (1977) kaum Islam di kawasan ini adalah minoritas baik pada pada suku asli daerah maupun imigran Melayu dan India sehingga mereka mambangun campuran budaya yang unik. Kebudayaan Islam di Afrika pada umumnya, tumbuh cepat dengan ditemukannya beberapa masyarakat Muslim baru di sana dan hal itu menunjukkan adanya dialektika yang mendalam antara agama dan budaya local.

 

II. DASAR-DASAR PEMIKIRAN ISLAM TERHADAP KERAGAMAN KEBUDAYAAN

Negara  Islam menonjol di dunia karena (1) minyaknya terutama  Negara Timur Tengah, 2) penduduk terbesar yang beragama Islam di dunia (3) Bagi negara Barat Islam adalah teroris. Sebaliknya, apa kelemahannya? Salah satu kekurangan yang nampak adalah tidak adanya kerjasama yang baik di antara Negara-negara Islam termasuk kerjasama  dalam bidang kebudayaan.

Di antara Negara-negara Islam, Indonesia-lah yang  dikenal nilai budaya  yang adiluhung itu.  Pada hal budaya dapat dijadikan sarana pergaulan internasional, misalnya pertukaran dengan budaya negara-negara lain. Kebudayaan dapat dijadikan sarana atau alat menciptakan perdamaian dunia melalui misi  keseniaannya. Panggung Internasional Islam dengan kebudayaannya, belum dianggap sebagai kekuatan dunia karena belum banyak produk budaya maupun teknologi klas dunia yang diakui oleh semua Negara di dunia ini. Pada hal kemajuan suatu  bangsa ditunjukkan  oleh nilai–nilai budaya. Bangsa yang beradap adalah  suatu bangsa yang mengakui  budayanya dan budaya orang lain  serta mampu  menjadi  produk budayanya. Allah telah berfirman dalam Qur,an sebagai berikut.

  1. 1.      Al-Quran surat 3 ayat 104, yang artinya “ Jadilah pelopor kemajuan dan kebudayaan, singkirkan rintangan dan halanagn jika mau Berjaya”.
  2. 2.      Al-Quran surat 3 ayat 110, artinya “ Kalian merupakan bangsa yang berbudaya dan berperadaban tinggi, cinta kemajuan, anti keterbelakangan dan beriman kepada Allah … “
  3. 3.      Al-Quran, surat 58 ayat 11, artinya  “Allah akan mengangkat derajat dan martabat manusia didasarkan pada ilmu pengetahuan dan spiritualitasnya”

Mengacu pada  beberapa surat dan ayat tersebut maka umat Islam di Indonesia khususnya, tentunya harus menyadari ketertinggalannya dengan bangsa lain terutama dalam produk budaya dan ilmu pengetahuan. Ayat-ayat tersebut menjadi cambuk untuk mengajar ketinggalannya dengan dunia dan negara lain. Selanjutnya akan dibahas :  islam sebagai akomodasi dan reformasi budaya.

 

 

 

 

`ä3tFø9ur öNä3YÏiB ×p¨Bé& tbqããô‰tƒ ’n<Î) Ύösƒø:$# tbrããBù’tƒur Å$rã÷èpRùQ$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3YßJø9$# 4 y7Í´¯»s9′ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÊÉÍÈ

104.  Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.

 

[217]  Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

 

 

III. ISLAM SEBAGAI PENDEKATAN AKOMODASI DAN REFORMASI BUDAYA

Suatu pertanyaan, dapatkan kebudayaan Islam ( Arab, Iran, Turki  Melayu, dan Afrika Hitam, diterapkan di Indonesia? Jawaban pertanyaan tersebut antara lain ada dalam klarifikasi tentang akomodasi.

Baidhawy, Zakiyuddin dkk, (1992) menjelaskan:

akomodatif adalah menampung, menyesuaikan, mencocokkan diri, mendamaikan, peramah, baik hati, suka menolong. Akomodasi dapat pula lebih difahami sebagai pembatasan, artinya tidak menerima secara total tanpa perubahan” 4

Konsep tersebut menunjukkan makna akomodasi sebagai suatu proses yang ditandai oleh adanya keseimbangan dan menjauhkan dari munculnya konflik. Sesuai dengan sifatnya agama Islam adalah universal, maka harus menampakkan nilai kulturnya, berjinak diri, tidak ganas dalam menghadapi kehidupan dan kebudayaan masyarakat.

Islam adalah system total dalam tata kehidupan manusia sehingga dikenal dengan dua pendekatan ialah pendekatan konflik (purifikatif) dan pendekatan akomodatif-reformatif kondisional dan apresiasif. Dalam pendekatan purifikatif, membutuhkan dukungan cara berfikir rasional dan ilmiah agar tauchid Islam tetap jernih jauh dari kurafat.

Pendekatan akomodatif-responsif-akulturatif, adalah pendekatan yang lebih menangkap ideal formal Islam dari pada aspek legal formalnya. Dengan demikian maka Islam difahami secara kontekstual, lentur, respektif dan apresiatif terhadap budaya-budaya local sehingga hegemoni budaya Arab dapat dihindarkan.

 

4. Baidhawy, dkk. Op. Cit.  hal. 4

Terkait dengan budaya yang ada di Indonesia, maka pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam tidak harus sama  persis sebagaimana dengan budaya Arab di mana agama Islam diturunkan. Islam lahir di Negara Arab, jika masuk ke daerah atau negara lain maka akan terjadi penyesuaian tarik menarik dengan budaya lokal dan ada proses adaptasi nilai-nilai universalnya. Sifat inilah yang menjadikan Islam sebagai agama yang akomodatif. Islam tidak akan pernah mengikis habis ide-ide pra Islam, budaya lokal serta tradisi yang hidup pada suatu wilayah tertentu. Inilah ciri khas ajaran Islam yang akomodatif dan sekaligus reformatif.

Mulder, Niels. (1973. 47), mengemukakan bahwa :

“…pentingnya pemahaman Islam melalui pendekatan akomodatif-reformatif – akulturatif, di samping burhani, ‘irfani, dan bayani. Kekuatan Islam tidak saja terletak pada keluwesannya mengakomodasi ragam budaya dan tradisi yang plural, tetapi juga mampu melakukan perbaikan dan modifikasi terhadap budaya dan tradisi yang dipandang menyimpang dari aqidah Islam”.

Pernyataan tsb meyakinkan kita bahwa pendekatan ini sangatlah cocok untuk pengembangan,  akomodasi  dan reformasi tradisi dan budaya di Indondsia. Aspek tradisi atau budaya, menjadi salah satu pertimbangan  dalam menetapkan hukum dan dari sinilah muncul kaidah fikih.  Artinya budaya dan adat istiadat dapat menjadi pertimbangan untuk menetapkan hukum bahkan dalam arti sempit mempunyai hegemoni yang kuat sehingga setiap praktek dan pemikiran baru yang tidak didukung  budaya atu tradisi harus ditolak atau dianggap sebagai bid’ah.

 

Pada surat al-Syu’ra ayat 137, Allah telah berfirman yang maknanya

 “ Apa yang kami lakukan ini tidak lain hanyalah adat atau kebiasaan orang-orang dahulu”

Di ayat tersebut nampak bahwa di satu sisi memberikan isyarat pentingnya tradisi  dan di sisi lainnya kita tidak boleh terjebak pada sikap tradisionalisme. Sebab faham tradisionalisme akan cenderung membuat masyarakat terkungkung di bawah bayang-bayang budaya yang stagnasi dan tidak dinamis. Pada hal Islam menghendaki kedinamisan yAng konstruktif termasuk tradisi dan budaya. Sebagaiman dikemukakan Syahrur, Muhammad yang dikutip Baidhawy (1992. 72), mengatakan “ Tradisi jangan dijadikan berhala pemikiran, melainkan tetap dikembangkan dan dikemarkan sesuai dengan perubahan ruang dan waktu dan ini cocok dengan dictum bahwa jika kita ingin Iskam menjadikan agama universal dan bertahan sepanjang zaman,  maka Islam harus mampu bersikap akomodatifradisi-tradisi yang berkembang sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam”.

Watak Islam yang akomodatif-reformatif terhadap tradisi dan budaya, tampak dalam sejarah. Banyak tradisi yang diakomodir dan direformasi sebelum turunnya Qur’an misalnya, thawaf, sai’, pernikahan, penentuan lamanya haid bagi wanita, praktik aqiqah, kurban, dan pelaksanaan hari raya Islam. Sebelum turunnya Qur’an, praktik thawaf sudah adayang dalam pelaksanaannya diiringi dengan tepuk tangan, bersiul, bahkan tanpa menutup aurat sebagaimana tersurat dalam Qur’an pada surat al-Anfal ayat 35  Allah  berfirman :“ Sembahyang mereka di sekitar baitullah itu tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan … “. Kemudian tradisi thawaf tersebut tidak dihilangkan tetapi direformasi sebagaimana dilakukan oleh Nabi  SAW dengan membaca doa talbiyah.

 Tradisi dan budaya lainnya adalah menyembelih binatang atau hewan ketika anak lahir yang dalam Islam disebut aqiqah. Pada masa jahiliyah dalam praktik aqiqah, darah hewan yang disembelih digunakan untuk melumuri kepala bayi yang baru lahir. Budaya  dan tradisi tersebut di atas sampai  sekarang telah diakomodir sekaligus direformasi oleh Islam sesuai dengan prinsip tauhid dan sosial kemanusiaan.

 Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa secara normative dan historis Islam tidak hanya melakukan purifikasi terhadap tradisi dan budaya-budaya yang ada di masyarakat, tetapi juga mengakomodir sekaligus meroformasi sehingga terjadi Islamisasi budaya dan pengembangan budaya Islam. Itulah apa yang seharusnya dilakukan dan telah dilakukan Islam di Indonesia terhadap budaya,  kebiasaan dan tradisi yang ada dimasyarakat  Indonesia.

Mari kita lihat cara atau model yang dikembangkan para Wali dan  Raja di Pulau Jawa kususnya dalam menyebarkan agama Islam. Mereka menggunakan  pendekatan akomodatif-reformatif,  yang sampai sekarang hasilnya luar biasa. Salah satu contoh pendekatan tersebut adalah apa yang  telah dilakukan para ulama dan para raja dalam proses pembentukan budaya. Khususnya di Jawa, banyak kita temukan contoh-contoh penyebaran Islam oleh para ulama yang dikenal dengan serat-serat babad sebagai Wali Sanga. Mereka telah melahirkan berbagai bentuk budaya misalnya: seni karawitan, pedalangan, mocopatan, lagu-lagu dolanan, lambang-lambang dalam kehidupan sehari-hari.  Kita mengetahui bagaimana strategi kebudayaan yang diprogramkan Sultan Agung dan  raja-raja Mataram yang tercermin pada karya sastra yang berisi nasihat-nasihat agama Islam.

Mereka secara tidak langsung menciptakan budaya Islam untuk menyebarkan ajaran Islam. Dengan demikian maka kita mendapatkan beragam bentuk ekspresi budaya dalam Islam. Dengan kata lain agama Islam dihadapkan dengan dialektika budaya sehingga Islam berkembang melalui budaya lokal  termasuk budaya Jawa. Sesungguhnya budaya lokal, sangat sarat dengan pesan-pesan filosofis, spiritual, moral dan sosial

 

IV.       BEBERAPA CONTOH BENTUK KEBUDAYAAN YANG TELAH DIAkOMODASI-DIREFORMASI

Para ahli  antropologi mengemukakan  bahwa  bentuk atau wujud  kebudayaan   ada  tiga  yaitu  : (1) gagasan, (2) aktivitas, dan (3) artefak (karya) yang berupa benda. Ketiga wujud ini khususnya di masyarakat Jawa, telah berubah. Bentuknya/ujudnya tetap sebagaimana sesuai dengan tradisi/adat dan budaya, tetapi isinya telah diubah  dengan nilai-nilai ajaran Islam.

1. Ujud gagasan/ide

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya yang sifatnya abstrak. Kebudayaan ini tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud budaya ini terletak dalam kepala-kepala atau alam pikiran warga masyarakat. Jika anggota masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan  ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya warga masyarakat tersebut.

Berapa karya para pujangga dan raja-raja zaman dulu, dapat kita nikmati dan dikaji secara mendalam. Isi beberapa karya tulis itu ternyata mengandung nilai budaya dan agama yang sangat luhur. Contoh-contoh hasil karya tulisan yang merupakan ujud dari idea atau gagasan  itu antara lain sebagai berikut: (1)Tembang mocopat antara lain : pangkur, kinanti, sinom, dandang gulo, asmorodono, (2) tembang modern.

  1. Sekar Pangkur

Salah satu jenis sekar mocopat adalah pangkur adalah sebagai berikut:

“Sopo biso uro-uro, uran-uran paringane Kanjeng Nabi, Jagad jembar langit duwur, geni saklangkung panas, mori putih yen diwedel dadi gadung, yen ra ngandel den nyatakno, asem kecut gulo legi.” 5

——————————–

5.Kahono. (1992). Lagu Sekar Mocopat. Yogyakarta. SMA Banguntapan. Hal. 74

 

Makna dari tembang tersebut bahwa siapa saja zaman sekarang ini yang mampu uro-uro (berdakwah), menyampaikan pesan tentang hadis ( paringane Nabi). Mengingat alam pergaulan yang demikian luas (jagad jembar langit duwur), sehingga orang mudah terpengaruh akibat pergaulan itu. Orang yang semula baik (mori putih) tetapi akibat pergaulan luas tersebut dapat berubah menjadi jahat (gadung=hitam). Oleh karena itu hanya hukum dan ajaran Allah dan Rosul yang tidak akan berubah sampai akhir zaman (asem kecut gulo legi). Tembang ini mengandung falsafah yang  sangat baik bagi generasi mendatang untuk dijadikan pedoman hidup bermasyarakat. Isi tembang pangkur tersebut merupakan ujud dari Hadis Nabi yang diriwayatkan Ibnu ’Asakir sebagai berikut “Hati hatilah kamu jangan mendekati teman yang jahat, karena sesungguhnya dengannya kamu akan diketahui”

Satu contoh lagi sekar pangkur yang merupakan ujud dari firman  Allah dalam Qur’an surat Ad-Dzariat ayat 56 Allah berfirman “ Wamaa qolaktul jinna wal insa IllaliyakbudunDan tidak lah  Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Ku”. Makna ayat tersebut dapat diujudkan dalam tembang pangkur sebagai berikut:

“ Gustiniro wus ngandiko, yekti Ingsun ora nitahake jin, lan manungso kajobo Sun, dawuhi nyembah Allah, lan dedepe ngarso Panjenengan ing Sun, akehe jin gawe sasar, mring menungso kang nuhoni .6

——————————

6. Kahono. (1992). Op. cit. Hal 81

 

  1. Sekar Kinanti

Kinanti adalah macam lain dari sekar mocopat yang dapat digunakan sebagai alat dahwah. Sebagaimana  hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim sebagai berikut :

“ … Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh (manusia) terdapat sepotong daging. Apabila daging itu baik, maka baiklah seluruh (amal) tubuh itu. Dan apabila daging itu buruk maka buruklah seluruh (amal) tubuh itu. Ketahuilah, dia itu hati”.

Hadis ini dapat dimanifestasikan dalam mocopat Kinanti sebagai berikut  “ Podo gulangen ing kalbu, Ing sasmita amrih lantip, Ojo pijer mangan nendro, Kaprawiran den kaesti, Pesunen saliraniro, Sudanen dahar lan guling “

 Inti sari atau ide yang ada dalam tembang tersebut adalah agar kita mengolah hati dengan baik, karena baik tidaknya perilaku manusia tergantung dari hatinya (niatnya) “ Inamal  a’malu binniat”

  1. Sekar Sinom

Sinom adalah jenis sekar mocopat yang banyak macam iramanya. Salah satu jenisnya adalah sinom grandel sebagai berikut:  “Amenangi jaman edan, Ewuh ajwo ing pambudi. Melu edan nora tahan, Yen tan melu anglakoni, Boyo kedumen melik, Kaliren wekasanipun, nDilalah Kersane Allah, Bejo-bejane kang lali, Luwih bejo wong kang eling lan waspodo”7

______________

7. Harsono, Andi. (2005). Tafsir Ajaran Serat Wulangreh. Yogyakarta: hal. 85

Isi dari sekar sinom grandel tersebut mengandung ajaran  yang berupa filsafat bagi kita semua, apalagi dalam menghadapi zaman yang makin rusak. Sekar tersebut merupakan manifestasi dari Surat Ar-Ra’d ayat 28  Allah berfirmat “ Alaa dzikrillahi tadmainnul kquluub” Ingatlah hanya  dengan mengingat Allah – lah hati menjadi tenteram “

Sekar sinom lainnya,  merupakan ujud  dari firman Allah yang tercantum dalam surat Muhammad ayat 7 yang artinya “ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah niscaya Dia menolong kamu dan menguatkan kedudukanmu “.

Ayat tersebut diujudkan dalam tembang sinom sebagai berikut :

He wong-wong kang podo iman,Lamun siro hanulungi, Agamane Gusti Allah, Panjenengane wus mesti, Banjur gito nulungi, Marang siro kabeh iku, Ngukuhke adeg iro, Santosaning siro yekti Handayani siro tan mundur tumindak “8

 

d. Sekar Dandang gulo

Sekar Dandanggula merupakan salah satu dari jenis Sekar Mocopat. Lagu Dandanggula juga banyak macam-macamnya. Sekar ini dapat digunakan sebagai media dakwah baik secara tulis maupun lisan. Isi sekar dapat berupa pendidikan, hukum, aturan

 

——————————

8. Kahono. (1992). Op. cit. Hal.47

 

yang harus ditepati, nasihat dsb. Di bawah ini diberikan contoh-contoh Sekar Dandanggula yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah Rosul. Allah telah berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 34 sebagai berikut:

” Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah dating waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.

Bagi para da’I ayat tersebut dapat disampaikan ketika berdakwah dengan  Sekar Dandanggula yang kata-katanya berikut ini :

“ Urip iku neng donyo tan lami, Umpamane jebeng menyang pasar, Tan langgeng neng pasar wae, Tan wurung nuli mantuk, Mring wismane sangkan paraning uni, Ing mongko ojo samar sangkan paranipun, Ing mongko podo weruho, Yen asale sangkan paran duk ing uni, Ojo nganti kesasar.”

Sumber mocopat dengan Sekar Dandanggula yang lain sebagaimana Nabi bersabda :

“Gunakanlah waktu longgarmu, sebelum datang waktu sibukmu

Gunakanlah waktu mudamu, sebelum datang waktu tuamu

Gunakanlah waktu sehatmu, sebelum datang waktu sakitmu

Gunakanlah waktu kayamu, sebelum datang waktu miskinmu

Gunakanlah waktu hidupmu, sebelum datang kematianmu”

 

Hadis Nabi tersebut dapat digubah menjadi Sekar Dandanggula sebagai berikut:

“ Ginakno ngger wektu longgar taksih, Sakdurunge kesibukaniro, Mrih becik kawekasane, Ginakno wektu mudomu, Sakdurunge katekan ringkih, Anggonen wektu sehatmu gerah sakderengipun, Ing mongko podo ngertio, Yen wus gering awak tan biso nggo ngaji, mulo poma di poma “

Banjure dawuh Rosul puniki, Ginakno bondo kang siro asto, Nggo tonggo kanan keringe, Sakdurunge mlaratmu, Tumibo mring awakmu kaki, Lajeng tan tido-tido gunakno uripmu, Kanggo ngibadah mring Allah, Lan kiyatno iman Islam kang sawiji, Sakderengnyo praloyo “

e. Sekar Asmorodono

Sekar Mocopat lain yang tidak kalah menariknya adalah Sekar Asmorodono. Salah satu sumber Qur’an yang dapat dijadikan bahan dakwah adalah surat An-Nahl ayat 18, Allah telah berfirman:

Dan jika kamu menghitung nikmat (pemberian) Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya”

Ayat tersebut dapat diujudkan dalam bentuk Sekar Asmorodono berikut ini :

“ Sih rohmating Moho Suci, Lahir batin tan winilang, Duk ing donya akherate, Bumi langit isi niro, Kanggo cukup manungso, Manungso tan biso ngetung Rohmat Allah wus sampurno “

Sebenarnya masih ada Sekar Mocopat lainnya yang dapat dijadikan media dakwah, tetapi tidak semua sekar itu penulis paparkan dalam kesempatan ini. Misalnya sekar : Gambuh, Maskumambang, Pucung, Durmo, Megatruh.

 

f. Lagu-lagu  daerah

Lagu-lagu Daerah berupa: lagu kroncong, lagu Sunda,lagu Batak, lagu Jawa misalnya campursari dsb, dapat digunakan sebagai media dakwah Islam  dan salah satu contoh adalah berikut ini.

Hadis Rosululloh yang diriwayatkan Bukhori Muslim dan Abi Hurairah sebagai berikut:

 “ Orang yang kuat  bukan orang yang  berani berkelahi, tetapi adalah orang yang dapat menguasai nafsunya ketika marah. “

Hadis tersebut dapat dijadikan lagu campur sari untuk media dakwah sebagai berikut:

“ Jogo hawa nafsu “ (lagu: Metuk)

“ Kanjeng Nabi Muhammad paring dawung marang kita sami Tindak lan ngendikane dadi conto kang tansah nyenengke. Wong kang kalebu kuat dudu gede okol lan akale. Dudu gede swarane, lan dudu gede kekuasaane. Nanging kang tansah eling anjogo marang latine, anjogo howo nafsune. Anjogo solah bawane, anjogo sesrawungane, anjogo tingkahlakune. Akehe manungso iku lali marang jati pribadine. Lali mring akidahe mung nuruti marang kekarepane.”

Lagu campursari lain yang  berisi perintah atau ajakan sholat sebagaimanaAllah berfirman dalam surat an-Nisa ayat 103 sebagai berikut:

“Dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat bagi orang-orang mu’min adalah kewajiban yang telah ditentukan waktu-waktunya”

Berdasarkan surat itu digubahlah lagu campursari dengan judul dan lirik sebagai berikut.

“ Ayo sholat”

(lagu caping gunung)

“ Ayo podo sholat kanggo sangu neng akherat. Pitulas rekaat rino wengi ojo telat. Yen jejeg sholate bakal kukuh agamane. Yen ninggal sholate bakal rubuh agamane. Kanyoto sholat cagake agomo. Wis nyoto sholat kuncine suwargo. Muslimin muslimat gede cilik enom tuwo. Mumpung sih no donyo ojo ninggal sholat lima “

2. Kebudayaan  adalah aktivitas (tindakan).

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat. Wujud ini sering disebut “sistem social”. Sistem social terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi,  mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu. Pola ini berdasarkan adat tata kelakuan anggota  masyarakat. Sifatnya konkrit dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dapat diamati dan didokumentasikan.

Dalam kebudayaan Jawa, aktivitas-aktivitas ini dapat dilihat dan ditelaah dalam kehidupan bermasyarakat.  Menurut Suseno, FM. ada dua kaidah yang paling menentukan dalam pola pergaulan masyarakat Jawa sebagai berikut: … Kaidah pertama akan saya sebut prinsip kerukunan, kaidah kedua sebagai prinsip hormat. Kedua prinsip itu merupakan kerangka notmatif yang menentukan bentuk-bentuk konkrit semua interaksi. Tuntutan dua prinsip itu selalu disadari oleh orang Jawa” 9

Prinsip  rukun

Yang pertama adalah “rukun, bertujuan untuk mempertahankan masyarakat dalam keadaan yang harmonis. Rukun mengandung makna selaras, tenang dan tenteram, tanpa ada perselisihan dan pertentangan. Bersatu dalam maksud dan tujuan untuk saling membantu. Menurut Jay (1979), rukun adalah cara bertindak. Berlaku rukun artinya menghilangkan tanda-tanda konflik dalam hubungan antar pribadi di masyarakat sehingga hubungan social tetap selaras dan terjaga baik. Dalam masyarakat Jawa ada dua komponen kerukunan :  (1) tidak ada gangguan keselarasan dalam kehidupan bermasyarakat, (2) pencegahan konflik, atau menghindari perpecahan. Memperhatikan kedua komponen tersebut maka  rukun adalah hati-hati.

Prinsip kedua adalah hormat,  yaitu prinsip yang mengatakan bahwa setiap orang dalam berbicara dan menyesuaikan diri harus menunjukkan hormat kepada orang lain, terutama kepada orang tua yang memang harus dihormati. Menurut  Geertz yang dikutip Suseno, FM, (2003), ” pendidikan sikap hormat dapat dilalui dengan tiga perasaan ialah (1) wedi, (2) isin, dan (3) sungkan”10

———————————–

9. Suseno, FM. (2003). Etika Jawa. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama. Hal.38

10. Suseno, FranzMagnis, (2003). Op. Cit. hal.63

 

Wedi atau takut adalah reaksi fisik atau kurang enak dari suatu tindakan. Pertama kali anak belajar wedi (takut) kepada orang yang dihormati. Mereka akan mendapat pujian bila bersikap wedi atau takut), dan ini berkembang terus dalam hidupnya. Isin (malu) adalah perasaan untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat menurunkan harga dirinya.

Ada dua macam isin (malu), ialah malu untuk melakukan perbuatan yang negative,  misalnya malu bila mencuri. Jenis  kedua adalah malu bila tidak melakukan perbuatan yang positif, misalnya malu kalau tidak berprestasi bagus. Sungkan adalah perasaan yang dekat dengan malu. Sungkan adalah malu dalam arti yang lebih positif yaitu sebagai rasa hormat yang sopanterhadap atasan atau sesame yang belum dikenal benar. Jadi sungkan merupakan pengekangan halus terhadap kepribadian sendiri demi hormatnya kepada orang lain.

Bagi anggota masyarakat, paling utama adalah harus bertindak, berperilaku sesuai dengan prinsip rukun dan hormat itu. Sikap dan tutur kata serta kepribadiannya harus mampu mencerminkan kedua prinsip hidup bermasyarakat Jawa itu agar mereka dihormati dan mendapatkan tempat dihati masyarakat. Apabila itu terjadi maka barulah  menggunakan jurus-jurus dakwah untuk menanamkan nilai Islam ke dalam jiwa orang lain di masyarakat.

3. Ujud artefak

Wujud kebudayaan yang ketiga adalah artefak (karya). Artefak atau hasil karya (produk) dari aktivitas manusia, perbuatan dan karya semua manusia berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkrit di antara ketiga wujud budaya tersebut.

Penggunaan produk atau hasil manusia sangat praktis. Ingat sejarah ketika para wali songo menciptakan wayang, gamelan, lagu-lagu dolanan, sekar mocopat dll, yang kesemuanya itu menjadi ujud budaya sebagai hasil akomodasi-reformasi. Beberapa artefak yang dapat disajikan pada kesempatan ini antara lain (1) adat kebiasaan (tradisi) orang Jawa (2) wayang.

a.Adat kebiasaan (tradisi)

Salah satu tradisi Jawa yang sampai sekarang susah dihilangkan adalah sesaji yang berupa kenduri ketika orang punya hajatan. Upacara-upacara itu sebenarnya penuh lambang yang seharusnya  dapat diterjemahkan dengan nilai-nilai Islam. Sebagaimana hadis Rosululloh yang diriwayatkan Bukhori Muslim:

 “Aku tinggalkan bagimu dua pusaka, bila kamu berpegang teguh dengan keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rosulullah saw”

Hadis ini dapat kita jadikan alat untuk menjelaskan makna lambang pada tradisi  yang disebut “kenduri”, ketika punya hajat misalnya menikahkan anaknya. Sesaji yang berupa kenduri ini merupakan upacara yang penuh dengan lambang-lambang, terdiri dari (1) pisang sanggan, (2) kembang setaman, (3) nasi tumpeng, (4) nasi golong, (5) ingkung ( ayam jantan rebus).

 

 

Pisang sanggan

Pisang sanggan ini berupa pisang dua lirang (satu tangkep) dari pisang raja. Makna pisang sanggan tersebut sebagai berikut,

Pisang raja setangkep:

(1)   Pisang berasal dari kiroto boso pi = pilar, sang = gesang maknanya bahwa hidup manusia itu harus mempunyai pilar (tiang=cagak) sebagai penyangga kehidupan kita di dunia. Pilar hidup adalah Qur’an dan Hadis  (pisang setangkep).  Makan pisang harus dikuliti artinya memahami Qur’an dan Hadis harus dianalisis isinya sampai mengerti. Raja, atau ratu, adalah lambang kemenangan.  Maksudnya pisang raja adalah agar supaya hidup didunia ini mendapatkan kemenangan maka harus mempunyai pegangan hidup  (cagak ing urip) ialah  Qur’an dan hadis.

(2)   Kembang setaman adalah lambang bau harum. Manusia tidak hanya akan mendapatkan kemenangan tetapi juga nama harum baik dunia dan akherat.  Oleh karena itu harus berpegang pada dua pilar hidup tadi. Kembang setaman pasti ada kembang kantil, dan ini merupakan lambang bahwa manusia harus kemantil-mantil kepada Allah untuk mendapatkan kemenangan dan keharuman di dunia dan akherat. DalamAl-Qur’an  tiang utama hidup manusia adalah sholat, puncak tiang adalah jihad yaitu berjuang di jalan Allah.

(3)   Nasi tumpeng, bentuknya kerucut, di bawah besar tetapi makin ke atas semakin kecil seperti  gunung. Tumpeng berasal dari kiroto boso, tu = metu (melewati), peng = lempeng (lurus). Makna dari lambang ini bahwa tumpeng bagian bawah adalah luas, lebar dan makin tinggi mengerucut sempit.  Makna dari tumpeng ini digambarkan bahwa hidup manusia di dunia penuh dengan jalan untuk mencapai tujuannya, tetapi muaranya hanya satu adalah Allah  (puncak tumpeng). Oleh karena itu hidup dengan bermacam-macam jalan, dan manusia harus mampu menemukan jalan yang lurus (dalam surat Al-Fathihah) sehingga tujuan hidup tidak akan tersesat. Dalam  surat Ali Imron ayat 101 Allah berfirman “Sopo wonge gegondelan marang agamane Allah, mongko deweke bakal dituduhake marang dalan kang bener”

(4)   Nasi golong, adalah lambang hidup manusia dalam mencapai tujuan  (kemenangan dunia akherat), harus mempunyai hati yang bulat, mantap (golong gilig). Dengan kata lain manusia harus mempunyai iman dan taqwa hanya kepada Allah. Mengenai iman dan taqwa, telah banyak disebutkan dalam Qur’an.

(5)   Ingkung, sego wuduk, kemaron.  

Ingkung berasal dari kiroto boso “ing kono” atau “di situ” adalah lambang kenikmatan sebagai tujuan hidup baik dunia maupun di akherat. Dalam hidup di dunia ini apabila berpegang teguh pada dua pilar ialah Qur’an dan Hadis, mempunyai hati yang golong gilig (iman dan taqwa), serta memilih jalan yang lurus yang diridhoi Allah, maka mereka akan meraih kemenangan dan kenikmatan dunia dan akherat.  Ingkung ditempatkan di atas nasi wuduk (sego wuduk) adalah nasi suci. Maknanya dalam mencari kenikmatan (tujuan hidup) tersebut, secara hahal atau suci. Ingkung dan nasi wuduk ditempatkan (diwadahi) “kemaron “. Kata kemaron sebenarnya berasal dari Kalimat “arkhama rokhimin” artinya Maha pengasih dari yang terkasih”. Lidah orang Jawa susah mengatakan kalimat tersebut sehingga hanya disingkat kamaron dan jadi kemaron. Dengan demikian maka ingkung nasi wuduk dan kemaron mempunyai makna bahwa manusia mampu menemukan kenikmatan suci  dari Allah Yang Maha Kasih. Sebagaiman Allah berfirman dalam surat al Hujuraat, ayat 13 “ Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu”.

b. Wayang

Wayang adalah produk manusia sehingga merupakan ujud budaya terutama di kalangan masyarakat Jawa. Setiap bentuk dan gambar wayang,  dapat dimaknai nilai-nilai Islam dan dijelaskan dengan ayat-ayat Qur’an dan hadis Nabi.

1). Tentang nafsu (nafs), dalam Qur’an ada tiga macam ialah nafsu muthmainah, nafsu amarah, dan nafsu lauwamah.

a) Nafsu muthmainah (jiwa tenang) tercantum pada surat al Fajr ayat 27 – 30. Dalam dunia wayang nafsu ini digambarkan pada diri Semar, merupakan dewa ngejowantah. Sosok semar adalah punakawan yang mengajak kepada kebenaran sehingga siapa saja yang diemong olehnya, menjadi satriyo pinilih, misalnya pada diri satriyo pendowo limo. Ini melambangkan bahwa orang yang mampu mengendalikan nafsunya sehingga dalam hati bersemayam nafsu muthmainah ini, akan menjadi manusia yang benar-benar iman dan taqwa.

Semar mempunyai anak ialah Nolo Gareng dan Petruk. Kata Nolo Gareng =berasal  dari kata nolo = hati,  sedang gareng  (garing) = kering.  Arti Nolo Gareng adalah lambang orang yang berhati kering dari penyakit hati, ialah orang yang berhati jujur, bersih dari dosa. Ujud Nolo Gareng : mata kero, hidung bulat, tangan cekot, kaki bejig. Maknanya, mata kero = minggir ketika melihat barang yang tidak baik, tidak pantas. Hidung bulat menggambarkan orang yang bulat hatinya hanya kepada Allah. Tangan cekot, gambaran orang yang tidak mau menggunakan tangannya untuk berbuat dosa. Kaki bejig adalah gambaran bahwa hidup di dunia harus dengan perilaku yang penuh hati-hati.

Petruk,  berasal dari kata patrap = tingkahlaku. Maknanya bahwa orang yang dikuasai nafsu muthmainah, dicerminkan pada lambang petruk ini. Sosok petruk adalah : hidung panjang, leher panjang, tangan panjang, kaki panjang. Maknanya hidung panjang artinya peka dan mapu mencium mana yang baik dan buruk, mana yang halal dan yang haram, mana yang benar dan yang salah. Leher panjang adalah gambaran orang yang bersuara merdu & nyaring. Maksudnya suara merdu,  adalah bersuara lembut dan  juga nyaring ketika menyampaikan kebenaran dan kedholiman. Tangan panjang adalah gambaran orang dermawan. Kaki panjang merupakan gambaran orang yang cepat langkah dalam hal kebenaran.

b. Nafsu amarah, tercantum pada surat Yusuf ayat 53, adalah nafsu yang selalu menyuruh berbuat kejahatan dan selalu mementingkan keduniaan. Dalam pewayangan nafsu ini digambarkan pada diri Togog. Sosok Togog juga punokawan tetapi yang diemong adalah raja-raja yang kaya penuh harta dan menghamburkan uang. Bentuk mulutnya yang besar dan dower (bhs Jawa) adalah gambaran orang yang mengedepankan makan  atau kebutuhan fisik lainnya.

c. Nafsu lauwamah, tercantum  dalam surat al-Qiyamah ayat 1-5, adalah jiwa yang amat menyesali diri sendiri atau jiwa peragu. Dalam pewayangan digambarkan sosok Betoro Guru.  Ujudnya seperti orang yang terbelenggu mengandung makna bahwa jiwa peragu dan penyesal akan selalu dibelenggu oleh nafsunya. Orang tipe ini tidak tegas dalam mengambil keputusan yang selalu berada antara nafsu muthmainah dan nafsu amarah.

Bentuk wayang lain yang mengandung falsafah dan dapat diterjemahkan dengan nilai-nilai Islam antara lain : Pendowo limo, Kresno (Noroyono) anak-anak Pendowo Limo (Gatotkoco, Ontorejo, Ontoseno, Setyaki). Dosomuko, Astino (Duryudono dan saudaranya) dan lain sebagainya. Demikian juga pada lakon wayang, mengandung nilai falsafah yang dapat diterjemahkan dengan nilai-nilai Islam, misalnya lakon “Pendowo main dadu”, “Bimo suci”, Cupu manik asto gino”dll.

 

 

 

K E S I M P U L A N

Berdasarkan uraian tersebut di atas  bahwa dasar-dasar Islam dapat dijadikan pendekatan untuk merubah, mengembangkan , mengakomodasi dan mereformasi kebudayaan baik luar maupun lokal.

  1. Islam menghargai pluralisme budaya, tradisi, kebiasaan yang ada dan hidup di masyarakat /negara.
  2. Dalam pengembangan, penyebaran agama, Islam dapat menggunakan budaya, tradisi, adat sebagai medianya.
  3. pendekatan Islam dalam upaya untuk mengembangkan agama, menggunakan dua model dan salah satu pendekatannya adalah akomodatif-reformatif ialah memfasilitasi perkembangan dan pembaharuan budaya luar dan lokal tanpa menghilangkan  bujud aslinya.
  4. Budaya dari luar misalnya dari negara lain (Arab) dapat disesuaikan dengan budaya lokal (Indonesia), itulah ujud nyata dari pendekatan akomodatif-reformatif.
  5.  Ujud konkrit budaya lokal, salah satu contoh adalah budaya Jawa, merupakan peninggalan sejarah, hasil warisan pendekatan Islam dengan model akomodatif-reformatif, misalnya : tembang mocopat, wayang, tembang dolanan, kenduri dll.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anderson,  Benedict. 2003. Mitologi dan Tolerasi Orang Jawa.     Yogyakarta: Penerbit Jejak

Asy’arie, Musa. 1992. Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Alqur’an. Yogyakarta: Penerbit: Lembaga Studi Filsafat Islam

Baidhowy, Zakiyuddin dan Mutohharun Jinan.2002. Agama dan Pluralitas Budaya Lokal. Surakarta: Penerbit Pusat Studi Budaya UMS

Dayakisni,Tri dan Sulis Yumardi. 2004. Psikologi Lintas Budaya. Malang: UMS Press

Faqih, Aunur rohim. Asmuni. IIp Wijayanta, Aang Kunaepi. 2001. Dasar-dasar Retorika Dakwah. Yogyakarta: Penerbit LPPAI-UII

Matsumoto. 1979. Cultures and Psychology. San Fransisco: Books/Cole Publishing  Company

Mulder, Niels. 1973. Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Malaikah, Musthafa. 2001. Manhaj Dakwah. Mesir: Pustaka Al-Kautsar

Marwoto Sindung. 2007. Ramalan Prabu Jayabaya. Yogyakarta: Panji Pustaka

Harsono, Andi. 2005. Tafsir Ajaran Serat Wulangreh. Yogyakarta: Pura Pustaka

Kahono. 1992. Lagu Sekar Mocopat.  Yogyakarta: SMA Banguntapan

Roqib, Moh. 2007.Harmoni Dalam Budaya Jawa. 2007. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset

Suseno, Franz Magnis. 2003. Etika Jawa.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Sumukti, Tuti. 2006. Semar Dunia Batin Orang Jawa. Yogyakarta: Penerbit Galangpress

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV.BENTUK KEBUDAYAAN SEBAGAI HASIL PENDEKATAN AKOMODATIF-REFORMATIF DALAM ISLAM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By adi061193 Posted in ALL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s